Text
STUDI UNJUK KERJA PROSES PENGERINGAN BIJIH NIKEL LATERIT MENGGUNAKAN ROTARY DRYER PADA SMELTER K PT INDONESIA WEDA BAY INDUSTRIAL PARK (PT IWIP)
XMLLogam nikel merupakan komponen penting dalam pembuatan baja tahan karat dan baja paduan karena sifat anti korosifnya yang tinggi. Salah satu perusahaan yang mengolah bijih nikel laterit di Indonesia adalah PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). PT IWIP menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dalam proses pengolahan nikel dengan metode pirometalurgi untuk menghasilkan produk feronikel, yang menjadi bahan baku utama baja tahan karat.
Pengolahan bijih nikel laterit dengan metode pirometalurgi memiliki keunggulan dalam menghasilkan recovery produk yang lebih tinggi dibandingkan metode hidrometalurgi. Salah satu tahap penting dalam pirometalurgi adalah pengeringan bijih nikel sebelum peleburan. Pengeringan industri telah berkembang pesat dari metode sederhana menggunakan angin dan matahari hingga penggunaan sistem pengeringan canggih seperti rotary dryer, yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pengeringan. Rotary dryer digunakan untuk mengeringkan bahan dengan kadar air rendah dan berbentuk butiran atau granul. Alat ini terdiri dari silinder berputar yang dipanaskan oleh gas atau udara panas. Bijih basah masuk dari ujung silinder dan keluar dalam kondisi kering dari ujung lainnya, dibantu oleh putaran silinder dan kemiringannya. Suhu buangan dari Electric Furnace dan rotary kiln digunakan dalam rotary dryer untuk mengurangi kadar air bijih nikel laterit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suhu terhadap proses pengeringan bijih nikel, pengaruh jumlah umpan terhadap suhu yang diterima, dan kesesuaian proses pengeringan bijih nikel berdasarkan SOP PT IWIP. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu yang diterima oleh rotary dryer, semakin rendah kadar moisture akhir yang diperoleh. Selain itu, jumlah umpan juga mempengaruhi kadar moisture akhir; semakin banyak umpan yang masuk, semakin tinggi kadar moisture yang dihasilkan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar moisture akhir yang sesuai dengan SOP adalah 20-25%. Pada line #3, moisture akhir sesuai SOP dengan nilai tertinggi 24,75% dan terendah 21,08%. Pada line #4, nilai tertinggi moisture mencapai 25,25% dan terendah 21,4%, dengan rata-rata 86,79% sesuai SOP. Terdapat tujuh data pada line #4 yang melebihi 25%, tetapi tidak lebih dari 26%. Secara keseluruhan, performa pengeringan pada line #3 lebih baik dibandingkan line #4.
Detail Information
| Item Type |
Tugas Akhir
|
|---|---|
| Penulis |
Rachel Figo Paulleta R - Personal Name
|
| Student ID |
2113309
|
| Dosen Pembimbing | |
| Penguji | |
| Kode Prodi PDDIKTI |
27401
|
| Edisi |
Published
|
| Departement | |
| Kontributor | |
| Bahasa |
Indonesia
|
| Penerbit | Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung : Bandung., 2024 |
| Edisi |
Published
|
| Subyek | |
| No Panggil |
622.7 RAC s
|
| Copyright | |
| Doi |







